Seberapa Sulit Terapi Judi Online Dibanding Game kemudian Narkoba? Begini Kata Psikiater RSCM
Jakarta – Psikiater Konsultan Adiksi di dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Kristiana Siste Kurniasanti, mengutarakan penanganan pasien yang mana terkena masalah jiwa imbas judi online tidaklah dapat disamakan dengan penyembuhan kecanduan game online atau sejenisnya. “Ternyata tata laksana terapinya berbeda antara kecanduan judi dengan kecanduan game online,” ucapnya pada seminar web yang dijalankan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesi (IDI), Sabtu, 26 Juli 2024.
Siste sendiri sempat menangani pasien dengan gangguan kejiwaan akibat judi online selama tiga tahun terakhir. Untuk memakai metode khusus untuk terapi adiksi atau penyembuhan kecanduan tersebut.
Menurut dia, pasien gangguan jiwa imbas judi online semakin marak ditemukan setelahnya berlalunya pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, akses pinjaman daring bisa saja didapatkan dengan sederhana oleh masyarakat. Pernyataan yang dimaksud didasari cerita beberapa pasien yang berobet ke Klinik Adiksi RSCM.
Dari pengalaman Siste sejauh ini, ada beragam motivasi yang dimaksud menimbulkan penduduk terjerumus ke pada permainan tersebut. Selain hambatan finansial, judi online biasanya menular lewat lingkungan. Para pemainnya terbuai dengan iklan-iklan yang beredar ke media sosial.
Beberapa pemain bahkan mengalami kecanduan tahap akut, dipicu oleh hasrat yang tersebut menggebu-gebu untuk bermain judi. Imbasnya adalah utang juga pinjaman yang tersebut semakin menumpuk.
“Pecandu judi online tidaklah memikirkan uang pinjaman atau uang pribadi yang tersebut habis. Dia hanya saja berpikir cara untuk menang serta akhirnya terbuai dengan hayalannya,” ujar Siste. Dia menceritakan adanya pasien yang mana berpengalaman mengungguli Mata Uang Rupiah 80 juta, padahal telah mengeluarkan modal hingga Rupiah 2 miliar.
Pada persoalan hukum judi online, adiksi atau kecanduan berasal dari perilaku. Hal ini berbeda dengan kecanduan narkoba yang tersebut mempengaruhi fisik. Menurut Siste, penanganan candu game lebih banyak ringan diobati. Pasien hanya saja wajib dijauhkan dari perangkat permainannya. Dalam tindakan hukum gangguan jiwa jiwa akibat judi online, penting tekad kuat dari pasien.
“Serta pengurangan beban eksternal yang tersebut menganggu. Misalnya pelunasan hutang serta sejenisnya,” ujarnya.
Siste mengumumkan pecandu judi online dikembalikan ke lingkungan yang tersebut sudah ada terpapar permainan tersebut. Meski sudah ada sembuh, perilaku sebelumnya mampu muncul kembali bila kembali ke lingkungan yang digunakan sama.
Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Mohammad Adib Khumaidi, menyampaikan ujung dari judi online adalah stress dab depresi. “Kesehatan mental yang dimaksud bermasalah akibat judi ini menimbulkan stres, depresi, kecemasan lalu sejenisnya,” kata Adib di diskusi yang tersebut sama.
Judi online berdampak terhadap hampir seluruh lini keberadaan para pemainnya, dari mengenai perilaku sosial hingga sektor ekonomi keluarga. “Judi online ini dapat dikatakan sebagai penyakit menular,” kata dia. “Bahkan di dalam masa sekarang mampu disebut kita sedang dihadapkan dengan situasi pandemi judi online.
Adib juga mengkategorikan judi online sebagai bahaya laten, lantaran semakin marak terjadi pada sejumlah negara, di antaranya Indonesia. Kondisi ini dipermudah dengan hadirnya berbagai teknologi kemudian akses untuk memainkannya dalam media sosial.
“Sekarang lagi viral, kita juga mampu perhatikan ini lah ya. Hal ini juga sebuah bahaya laten kemudian bahkan serupa dengan narkoba,” ucap Adib.
Artikel ini disadur dari Seberapa Sulit Terapi Judi Online Dibanding Game dan Narkoba? Begini Kata Psikiater RSCM




