Gangguan Peralatan Windows, Ini adalah Cara Agar Kasus CrowdStrike Tidak Terulang
Jakarta – CrowdStrike merilis patch yang mana relatif kecil pada hari Jumat, 19 Juli 2024, lalu patch yang dimaksud mendatangkan malapetaka pada sebagian besar globus TI yang mana menjalankan Microsoft Windows, sehingga melumpuhkan bandara, prasarana kesehatan, juga pusat panggilan 911.
Perusahaan seperti CrowdStrike kemungkinan besar miliki saluran DevOps yang digunakan canggih dengan kebijakan rilis yang mana diterapkan, namun meskipun demikian, kode dengan bug yang dimaksud entah bagaimana mampu lolos.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, perusahaan mengakui konsekuensi dari pembaruan yang mana salah. “CrowdStrike mengenali gawatnya kemudian dampak dari situasi ini. Kami dengan cepat mengidentifikasi hambatan yang disebutkan juga menerapkan perbaikan, sehingga memungkinkan kami untuk fokus pada pemulihan sistem pelanggan sebagai prioritas utama kami,” ujar perusahaan sebagaimana disitir TechCrunch, 23 Juli 2024. Lebih lanjut, dijelaskan akar penggerak pemadaman, walaupun tak menjelaskan bagaimana hal itu terjadi.
Dan Rogers, pimpinan di LaunchDarkly, mengungkap hambatan penerapan perangkat lunak secara lebih besar luas. “Bug perangkat lunak memang benar terjadi, tetapi sebagian besar kesulitan perangkat lunak yang dialami seseorang sebenarnya bukanlah oleh sebab itu permasalahan infrastruktur,” katanya terhadap TechCrunch.
“Hal ini muncul dikarenakan seseorang meluncurkan perangkat lunak yang tersebut tiada berfungsi, lalu perangkat lunak yang dimaksud secara umum sangat dapat dikontrol.” Dengan tanda fitur, Anda dapat mengontrol kecepatan penerapan layanan baru, juga mematikan fitur, jikalau berjalan kesalahan untuk mengurangi permasalahan menyebar luas.
Namun penting untuk dicatat, bahwa di tindakan hukum ini, masalahnya berada pada tingkat kernel sistem operasi, lalu jikalau kesulitan yang disebutkan sudah ada bukan terkendali, maka akan tambahan sulit untuk memperbaikinya dibandingkan dengan program web. Namun, penerapan yang tersebut lebih lanjut lambat dapat mengingatkan perusahaan akan permasalahan ini lebih lanjut cepat.
Apa yang berlangsung di CrowdStrike berkemungkinan berjalan pada perusahaan perangkat lunak mana pun, bahkan perusahaan yang digunakan mempunyai praktik rilis perangkat lunak yang baik, kata Jyoti Bansal, pendiri dan juga direktur utama pada Harness Labs, pembuat alat pengembang saluran DevOps. Dia menjelaskan secara umum tentang bagaimana kode dengan bug bisa saja lolos.
Biasanya, ada tahapan di dalam mana kode diuji secara menyeluruh sebelum diterapkan, namun terkadang kelompok teknik, teristimewa pada kelompok teknik besar, mungkin saja mengambil jalan pintas. “Hal seperti ini mungkin saja berlangsung saat Anda melewatkan jalur pengujian DevOps, yang dimaksud cukup umum berjalan pada pembaruan kecil,” kata Bansal terhadap TechCrunch.
Dia mengungkapkan hal ini banyak terbentuk di organisasi besar yang digunakan tidaklah mempunyai pendekatan tunggal terhadap rilis perangkat lunak. “Misalnya Anda mempunyai 5.000 insinyur, yang mana mungkin saja akan dibagi berubah menjadi 100 regu yang terdiri dari 50 atau lebih banyak pengembang berbeda. Tim-tim ini mengadopsi praktik yang digunakan berbeda,” katanya. Dan tanpa standarisasi, kode buruk akan lebih tinggi simpel lolos.
Bagaimana mengurangi bug agar tidaklah lolos
Kedua direktur utama yang dimaksud mengakui bahwa bug terkadang terjadi, namun ada cara untuk meminimalkan risiko, salah satunya yang tersebut mungkin saja paling jelas: mempraktikkan kebersihan rilis perangkat lunak standar. Hal itu melibatkan pengujian sebelum penerapan lalu kemudian penerapan dengan cara yang dimaksud terkendali.
Rogers menunjuk pada perangkat lunak perusahaannya dan juga mencatatkan data bahwa peluncuran progresif adalah awal yang tersebut baik. Daripada memberikan pembaharuan untuk setiap pengguna sekaligus, Anda malah merilisnya ke sebagian kecil serta mengamati apa yang berjalan sebelum memperluas peluncurannya.
Demikian pula, jikalau Anda telah lama mengontrol peluncuran dan juga berlangsung kesalahan, Anda dapat melakukan roll back. “Ide manajemen ciri atau kontrol layanan memungkinkan Anda memulihkan ciri yang tiada berfungsi juga memulihkan khalayak ke versi sebelumnya jikalau ada yang digunakan bukan berfungsi.”
Bansal, yang mana perusahaannya baru hanya membeli startup unggulan Split.io pada bulan Mei, juga merekomendasikan apa yang tersebut disebutnya “penerapan canary”, yaitu penerapan pengujian kecil yang terkontrol. Disebut demikian dikarenakan merekan mengingat kembali burung kenari yang dikirim ke tambang batu bara untuk menguji kebocoran karbon monoksida. Setelah Anda membuktikan bahwa peluncuran tes terlihat bagus, Anda dapat melanjutkan ke peluncuran progresif seperti yang digunakan disinggung Rogers.
Seperti yang dimaksud dikatakan Bansal, perangkat lunak kemungkinan besar terlihat bagus pada pengujian, namun pengujian laboratorium tidaklah selalu mencakup semuanya, juga itulah mengapa Anda harus menggabungkan pengujian DevOps yang tersebut baik dengan penerapan terkontrol untuk menangkap hal-hal yang tersebut terlewatkan oleh pengujian laboratorium.
Rogers menyarankan pada saat melakukan analisis terhadap acara pengujian perangkat lunak Anda, Anda meninjau tiga bidang utama — platform, orang, kemudian serangkaian — kemudian menurut pandangannya, semuanya bekerja sama. “Tidak cukup cuma mempunyai wadah perangkat lunak yang dimaksud hebat. Tidaklah cukup hanya saja mempunyai pengembang berkemampuan tinggi. Alur kerja lalu tata kelola yang telah dilakukan ditentukan sebelumnya juga bukan cukup. Ketiganya harus bersatu,” ujarnya.
Salah satu cara untuk mengurangi teknisi atau kelompok menyavoid jalur pipa adalah dengan menerapkan pendekatan yang tersebut identik untuk semua orang, namun dengan cara yang tidaklah memperlambat tim.
Artikel ini disadur dari Gangguan Perangkat Windows, Ini Cara Agar Kasus CrowdStrike Tidak Terulang




