Suhu Bumi Terus Bertambah di Satu Abad, Ini adalah Tandanya
Jakarta – Sepanjang satu abad ini, suhu udara pada Negara Indonesia dilaporkan terus mengalami peningkatan. Rata-rata suhu meningkat dari 25,4 pada masa 1900, berubah menjadi 26,2 derajat Celsius pada masa kini. Badan Penelitian kemudian Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan fenomena ini sebagai dampak pembaharuan iklim secara global.
Peneliti Ahli Utama pada Pusat Penelitian Limonologi lalu Sumber Daya Air BRIN, Irfan Budi Pramono, mengatakan tren peningkatan suhu ini berjalan secara konstan atau mirip sekali tak pernah menurun. “Justru kecenderungan suhu udara di Indonesia mengalami peningkatan yang mana cukup signifikan,” kata Irfan di sebuah program daring ke BRIN pada Selasa, 23 Juli 2024.
Peningkatan suhu udara ini ditandai dari berkurangnya debit air pada sungai-sungai besar yang tersebut ada dalam Pulau Jawa. Irfan mendapati persediaan air dalam Sungai Ciujung, Cikapundung, Cimanuk, Citanduy, Bengawan Solo, hingga Brantas, sudah ada kian surut dari waktu ke waktu.
“Sehingga kita harus waspada bahwa air kita itu sudah ada semakin berkurang. Jika tiada diantisipasi, bagaimana mempertahankan air yang dimaksud ada ini untuk masa depan nanti?”
Laporan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) sebelumnya juga pernah mengidentifikasi terjadinya pengurangan cadangan air pada tanah akibat peningkatan suhu bumi. Diikuti dengan intensitas bencana hidrometeorologi.
Dampaknya adalah prospek kekeringan ekstrem lantaran persedian air pada tanah terus berkurang. Ahli hidrologi itu memprediksi akan terjadinya krisis air bersih dalam masa depan. Tersebab peningkatan suhu acapkali dibarengi evapotranspirasi sehingga dapat mengempiskan cadangan air tanah. Evapotranspirasi adalah gabungan evaporasi kemudian transpirasi tumbuhan yang digunakan hidup di permukaan bumi. Air yang tersebut diuapkan oleh flora dilepas ke atmosfer.
Selain itu, pembaharuan iklim juga memperburuk ketahanan pangan imbas bukan menentunya pola hujan yang digunakan terjadi. Di satu sisi, juga dapat merembet ke fenomena bencana hidrometeorologi. “Bahkan dapat menyebabkan migrasi massal lalu meningkatkan konflik sosial juga politik,” ujar alumnus doktoral Bidang Studi Lingkungan pada Universitas Sebelas Maret, Surakarta, tersebut.
Irfan merekomendasikan seluruh pihak bisa saja berkolaborasi dengan di menahan laju pembaharuan iklim lalu peningkatan rata-rata suhu udara. Menurut dia, langkah dini yang digunakan bisa jadi dijalankan adalah penyadaran untuk menjaga lingkungan. Termasuk melakukan reboisasi hutan dan juga dalam lahan-lahan yang gersang.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, mengungkapkan dampak inovasi iklim terhadap sumber daya air. Di antaranya krisis air bersih perkotaan, kerawanan pangan, meningkatnya tingkat kejadian penyakit, pembaharuan pola curah hujan, juga kerawanan bencana. “Perubahan iklim juga meningkatkan suhu bumi, dampaknya akan kita rasakan secara dengan segera atau bukan langsung,” kata dia.
Amarulla memberi fokus pada peningkatan bencana hidrometeorologi. Seperti banjir, longsor, kekeringan, puting beliung, kebakaran hutan, dan juga gelombang pasang atau terjadinya abrasi. Dia berharap, para profesor riset di dalam BRIN dapat memberikan partisipasi nyata lalu secara bergerak untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di dalam Indonesi sekaligus memberikan solusi akan permasalahan aktual yang berada dalam dihadapi.
Artikel ini disadur dari Suhu Bumi Terus Meningkat dalam Satu Abad, Ini Tandanya




