Kontroversi Roti Aoka kemudian Okko: Respons Produsen, BPOM, hingga Ahli Boga
Jakarta – Roti Aoka kemudian Okko terus bermetamorfosis menjadi sorotan. Kontroversi yang digunakan beredar, diduga roti ini mengandung pengawet kosmetik sodium klorida dehydroacetate, lantaran sanggup tahan lama hingga berbulan-bulan. Badan Pengawas Jalan keluar lalu Makanan (BPOM) kemudian produsen roti yang dimaksud sudah ada berkomentar menanggapi kabar yang dimaksud santer beredar.
Ketua Paguyuban Roti kemudian Mie Ayam Borneo (Parimbo) Aftahuddin memohonkan masyarakat tetap waspada. Aftahuddin mengatakan, warga harus tambahan berhati-hati terhadap roti yang tersebut tahan lama, bahkan di mana telah jarak jauh melintasi masa kedaluwarsa. Terlebih berdasarkan hasil uji sampel pada SGS Indonesia, ada isi natrium dehydroacetat pada roti Aoka.
“Kami bukan sanggup mengatur selera masyarakat. Tapi, tentu penduduk bisa jadi menganggap bagaimana tahapan roti itu dapat awet,” kata Aftahuddin terhadap Tempo, Rabu, 24 Juli 2024.
1. Respons Anggota DPR
Kontroversi persoalan komposisi zat berbahaya di roti Aoka serta Okko juga ditanggapi oleh Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto. “Jangan dibiarkan masyarakat berlarut-larut bingung apakah roti ini aman atau tidak. Selain itu, apabila tiada kunjung diumumkan, juga merugikan pelaku perniagaan yang dimaksud bersangkutan, dikarenakan sanggup jadi kehilangan kepercayaan konsumennya,” kata Edy di penjelasan tertulis, Selasa, 23 Juli 2024 disitir dari Antara.
Ia juga menyoroti pemberitaan yang dimaksud mengangkat mengenai dugaan pemanfaatan zat pengawet kosmetik garam dehydroacetate pada roti Aoka itu. “Ini artinya komunitas peduli dengan keamanan apa yang mana dikonsumsinya. Tinggal langkah selanjutnya adalah memberikan kejelasan apakah laporan itu benar atau tidak,” ucapnya.
2. Tidak Wajar
Ketua Ikatan Ahli Boga DKI DKI Jakarta M. Ibnu Sina menyimpulkan klaim roti Aoka serta Okko roti yang tersebut diproses secara wajar seperti menggunakan ragi umumnya tidaklah dapat bertahan lama. Biasanya hanya saja bertahan dua pekan. “Bisa bertahan sampai enam bulan sangat tiada wajar,” kata Ibnu untuk Tempo, Selasa, 23 Juli 2024.
Roti Aoka dan juga Okko yang bertekstur basah atau lembap dan juga manis makin tidaklah wajar jikalau sanggup bertahan hingga berbulan-bulan. Meskipun, dikemas menggunakan udara nitrogen pada pada kemasan. “Untuk pengawet garam klorida dehydroacetate ini saya baru dengar. Teman-teman yang dimaksud berkecimpung pada bidang makanan juga tak mengenal zat pengawet ini,” kata Ibnu.
3. Keterangan BPOM
Menanggapi masalah kontroversi barang roti Aoka serta Okko, BPOM kembali melakukan uji laboratorium dengan hasil yang dimaksud berbeda dari yang tersebut banyak dikeluhkan. Dalam laporan Majalah Tempo berjudul Tanggapan BPOM Soal Roti Berbahan Pengawet Kosmetik, Pelaksana Tindakan Deputi Sektor Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Emma Setyawati memastikan, tidak ada mendeteksi adanya pengawet berbahaya roti Okko dan juga Aoka.
“Tidak terdeteksi (kandungan sodium dehydroacetate). Sudah kami uji beberapa kali, konfirmasi, lakukan lagi. Hasilnya tak terdeteksi. Kami lakukan pengujian berbasis risiko. Kalau saya komunikasikan berbasis risiko, berarti sudah ada beberapa kali,” kata Emma terhadap Tempo, Rabu, 17 Juli 2024.
Ia pun mengkaji bahwa pengumuman hasil uji laboratorium yang mana direalisasikan beberapa orang produsen makanan rumahan di dalam Kalimantan telah dilakukan menyalahi aturan, oleh sebab itu pengujian belaka bisa jadi diwujudkan oleh BPOM, bukan berdasarkan permintaan pihak tertentu.
4. Produsen Aoka serta Okko
PT Indonesia Bakery Family selaku produsen roti Aoka berkomentar. Head of Legal Negara Indonesia Bakery Family Kemas Ahmad Yani menegaskan, roti Aoka tak mengandung material sodium dehydroacetate.
“Kami ingin menegaskan bahwa roti buatan kami tidaklah menggunakan garam dehydroacetate. Sebanyak 16 hasil kami telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Solusi lalu Makanan (BPOM),” kata Kemas pada Rabu, 17 Juli 2024.
5. Steril
Pengelola pabrik PT Abadi Rasa Food, Jimmy menyatakan, hasil perusahaannya bisa saja bertahan lama, lantaran diproduksi di ruangan berstandar internasional juga steril.
“Ruangan produksi dibuat berstandar internasional, steril seperti ruang operasi rumah sakit. Roti bisa saja tahan 60-90 hari, lantaran rute produksi yang mana higienis dan juga zat unsur yang dimaksud sudah ada ditetapkan sesuai dengan peraturan BPOM. Tempatnya harus bersih sekali, tiada boleh ada bakteri identik sekali, sesuai dengan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB). Kuncinya di pengemasan,” ucap Jimmy pada Selasa, 16 Juli 2024.
RADEN PUTRI | ANDIKA DWI | NANDITO PUTRA | MAJALAH TEMPO
Artikel ini disadur dari Kontroversi Roti Aoka dan Okko: Tanggapan Produsen, BPOM, hingga Ahli Boga





