PM China Li Qiang berencana untuk kunjungi Indonesia

Beijing – Utama Menteri China Li Qiang berencana untuk kembali melakukan lawatan kenegaraan ke Indonesia.
"Kami juga menyampaikan Utama Menteri Li Qiang berencana untuk mengunjungi Tanah Air pada akhir Mei 2025," kata Menlu Wang Yi di Wisma Negara Diaoyutai pada Hari Senin (21/4).
Menlu Wang Yi menyampaikan hal yang disebutkan pada 2+2 Pertemuan Derajat Menteri Pertama China-Indonesia sama-sama dengan Menteri Defense China Dong Jun, Menteri Luar Negeri Sugiono lalu Menteri Perlindungan Sjafrie Sjamsoeddin.
"Seperti Anda ketahui, Utama Menteri Anwar Ibrahim dari Tanah Melayu berubah menjadi ketua bergilir ASEAN dan juga akan melaksanakan KTT ASEAN-GCC (Gulf Cooperation Council)-China kemudian kami membantu inisiatif positif Tanah Melayu ini tapi kami juga ingin menyimpan lalu memacu kerja sejenis China-Indonesia, jadi kami pikir PM Li Qiang bila memungkinkan juga berkunjung ke Indonesia," ungkap Wang Yi.
Bila kunjungan itu terlaksana, maka akan berubah menjadi kunjungan pertama PM Li setelahnya Presiden Prabowo Subianto menjabat.
PM Li Qiang terakhir kali mengunjungi Negara Indonesia pada 5 September 2023 untuk mengunjungi rangkaian Pertemuan Derajat Tinggi (KTT) ASEAN kemudian KTT ASEAN-China (10+1), KTT ASEAN Plus Three (APT) juga KTT Asia Timur.
"Sebagai negara berprogres utama, China serta Tanah Air harus menjunjung lebih tinggi prinsip kerja sejenis terbuka, saling menguntungkan, juga inklusif, dan juga menolak proteksionisme lalu unilateralisme. Penyalahgunaan tarif akan merugikan hak serta perdagangan negara-negara lain," ungkap Wang Yi.
China, kata Wang Yi, berjanji untuk meningkatkan kekuatan integrasi kegiatan ekonomi kawasan, menyimpan rantai pasok yang mana stabil juga lancar, dan juga memperjuangkan keadilan serta supremasi hukum untuk negara-negara di Selatan Global.
Dalam reuni 2+2 itu, Wang Yi memaparkan China kemudian Indonesia setuju untuk memperingati 80 tahun berdirinya PBB serta 70 tahun Forum Asia-Afrika melalui kerja mirip strategis multilateral yang dimaksud lebih tinggi erat, memperkenalkan prinsip hidup berdampingan secara damai kemudian semangat Bandung, dan juga menguatkan kerja serupa pada wadah seperti PBB, BRICS, juga G20, demi perdamaian kemudian konstruksi dunia.
"Tahun ini menandai 75 tahun hubungan diplomatik antara China serta Indonesia, membuka prospek baru di hubungan bilateral. Kami puas dengan hasil reuni hari ini, lalu setuju pertarungan berikutnya akan diselenggarakan di dalam Indonesia," ungkap Wang Yi.
Dalam perjumpaan tersebut, dijalankan juga penandatanganan Nota Kesepahaman pembentukan Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) oleh Menlu Sugiono dan juga Menlu Wang Yi.
"Dengan CSD, kita bangun mekanisme bilateral yang tersebut lebih tinggi komprehensif juga lebih tinggi fokus di menjawab tantangan serta potensi kerja sejenis bilateral, dengan fokus pada lima pilar kerja sama, yaitu ekonomi, hubungan antar masyarakat, maritim, politik, lalu keamanan," kata Menlu Sugiono.
Dalam pertarungan 2+2, Indonesia kemudian China setuju meningkatkan kerja serupa penegakan hukum, salah satunya bantuan hukum timbal balik, pertukaran intelijen, juga koordinasi operasi di menanggulangi kejahatan transnasional, kejahatan siber, kemudian ekstremisme.
Sebagai bagian dari upaya mendirikan strategic trust, kedua negara juga setuju membentuk mekanisme konsultasi bilateral baru di bidang perlucutan senjata, non-proliferasi, kemudian pengendalian senjata.
Di sektor maritim, Tanah Air juga China setuju untuk meningkatkan kerja sama, diantaranya dengan menguatkan koordinasi antara Bakamla kemudian "China Coast Guard".
"Kerja mirip maritim harus memberi dampak nyata bagi rakyat dan juga berkontribusi bagi keamanan maritim kawasan," tambah Menlu Sugiono.
Artikel ini disadur dari PM China Li Qiang berencana untuk kunjungi Indonesia





